
SAMARINDA. Hasil pahit kembali diterima Persisam Putra dan Mitra Kukar, dua tim asal Kaltim dalam lanjutan Kompetisi Divisi I Ligina 2007. Persisam Putra kalah kala bertemu Persidago Gorontalo dengan skor tipis 0-1. Sementara Mitra Kukar dihajar Persigo 0-3. Hasil ini membuat ambisi kedua tim untuk pulang membawa poin harus dilupakan. Persisam Putra awalnya menargetkan poin 3 dari dua kali pertandingan di Gorontalo, sementara Mitra Kukar mematok dua poin.
Kita sebenarnya punya peluang untuk mendapatkan tiga poin dari Persidago, sebab kita menguasai jalannya pertandingan tetapi tak ada satu peluang pun menghasilkan gol," kata asisten manajer Aspian Noor Poseng kemarin.
Satu-satunya gol tuan rumah di hadapan sekitar 2 ribu penonton di Stadion 23 Januari diciptakan Syila Dauda lewat eksekusi tendangan bebas. Menurut Poseng, Persisam Putra semakin menekan lawan ketika tertinggal, namun kebuntuan di barisan depan yang kemarin dipercayakan kepada Jean Paul Boumsong serta Alamsyah, selalu gagal membuahkan gol.
"Kita memang sial, tetapi inilah hasil dari pertandingan. Saya melihat wasit juga terlalu memihak tuan rumah. Yang jelas akan banyak evaluasi dilakukan pada tim Persisam Putra usai tur di Gorontalo ini," kata Poseng lagi.
Sementara itu nasib serupa dialami Mitra Kukar. Bahkan Mitra Kukar lebih sial karena harus kebobolan 3 gol tanpa balas. Tiga gol Persigo Gorontalo dihasilkan Iksan Abubakar lewat eksekusi penalti menit 46', dan menit 88' serta Andry Abubakar.
Mitra Kukar tambah merana, pasalnya beberapa pemain mereka sempat dipukul aparat pertandingan. Bahkan Mustaqim yang melakukan protes atas penalti Persigo, sempat ditarik-tarik pihak keamanan bahkan satu diantaranya memukul bagian belakang kepala Mustaqim.
"Kami bermain tak hanya melawan 11 pemain lawan, tetapi 3 wasit serta ribuan penonton yang terus melakukan pelemparan. Terus terang, selama saya menyaksikan pertandingan bola baru ini saya merasakan betapa "ganasnya" wasit dan penonton," kata manajer tim H Fahmi SE.
Secara permainan kata Fahmi sebenarnya imbang. Penalti tuan rumah menjadi awal rusaknya mental pemain Mitra Kukar.
"Tak ada pelanggaran saat Tito dan lawan adu lari di kotak penalti, tapi wasit malah menunjuk titik putih," kata Fahmi kesal.
Setelah itu ulah wasit semakin menjadi-jadi, diikuti lemparan penonton terhadap pemain Mitra. Ironisnya, Claudio Martinez, mantan pemain Mitra Kukar malah menjadi provokasi yang berakibat memuncaknya emosi pemain Mitra.
"Saya tak bisa bicara banyak, tetapi inilah yang harus kami alami. Kita benar-benar dibuat harus kalah dengan berbagai cara," pungkas Fahmi.